JAKARTA – Mengubah hasil riset akademis menjadi inovasi yang berdampak nyata dan memiliki nilai komersial membutuhkan ekosistem pendanaan yang terkoordinasi dan berkelanjutan. Menyadari pentingnya hilirisasi riset bagi lahirnya startup inovatif di masa depan, Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) 1 PRISMA-PMK pada Kamis (27/08/2026) di Ruang Heritage Kemenko PMK, Jakarta.

Acara yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI), dan Katadata Insight Center ini mengusung tema strategis: “Menghubungkan Talenta Global dan Riset Berdampak Berbasis Kolaborasi Kemitraan Pentahelix: Penguatan Joint Degree dan Joint Research untuk Brain-Gain Indonesia.”

Fokus pada Pendanaan, Insentif, dan Keberlanjutan Dalam kegiatan ini, Amvesindo diwakili oleh Wakil Ketua II, Andreas Surya. Sesi FGD dirancang secara interaktif dengan membagi peserta ke dalam empat meja tematik. Andreas Surya berpartisipasi aktif pada Meja 3 yang secara khusus membedah isu “Pendanaan, Insentif & Keberlanjutan”.

Sesi pada meja ini difasilitasi oleh Dr. Luqyan Tammani, M.Ec. (BSI Institute) dan melibatkan pemangku kepentingan kunci dari lintas sektor, di antaranya Dr. Ayom Widipaminto (LPDP), Ibu Ajeng (BRIN), Ibu Astari Dwiranti (UI), Ibu Ana Saleh (ISRSF–IFAR), serta perwakilan lembaga donor lainnya. Dari kacamata industri modal ventura, Amvesindo menekankan pentingnya fleksibilitas pendanaan agar hasil dari Joint Research tidak berhenti di atas kertas, melainkan dapat dihilirisasi menjadi produk, kebijakan, atau inovasi teknologi terapan.

Temuan Utama: Transisi Menuju Pendekatan Berbasis Ekosistem Secara umum, FGD ini menyimpulkan bahwa Indonesia sejatinya telah memiliki modal kelembagaan, talenta, program, dan sumber pendanaan yang memadai. Tantangan utamanya terletak pada bagaimana fondasi tersebut diterjemahkan ke dalam implementasi yang konsisten, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

Beberapa poin krusial yang menjadi fokus kebijakan ke depan meliputi:

  • Penguatan Koordinasi dan Orkestrasi: Diperlukan penyelarasan regulasi dan kewenangan antar-lembaga, serta integrasi data bersama guna menghindari tumpang tindih program.

  • Pendanaan yang Adaptif: Mengupayakan efisiensi proses persetujuan pendanaan dan menciptakan skema insentif yang lebih fleksibel untuk mendukung mobilitas peneliti dan keberlanjutan riset.

  • Hilirisasi dan Dampak Terukur: Keterhubungan yang lebih erat antara hasil riset (Joint Research), perumusan kebijakan, dan pemanfaatannya oleh industri (termasuk startup dan perusahaan teknologi).

  • Pergeseran Paradigma: Penguatan Joint Degree dan Joint Research harus bergeser dari sekadar “pendekatan berbasis program” menjadi sebuah “ekosistem” yang terintegrasi, transparan, dan mampu menghasilkan dampak pembangunan yang nyata.

Keterlibatan Amvesindo dalam kolaborasi Pentahelix ini merupakan wujud komitmen asosiasi untuk menjembatani dunia riset akademis dengan dukungan modal inovasi, guna mewujudkan Brain-Gain yang memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia.