Jakarta, 29 Juni 2026 – Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) turut menghadiri rapat koordinasi strategis yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Rapat yang dipimpin langsung oleh Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Kementerian PPN/Bappenas, Bapak Andianto Haryoko, ST, MSi, ini bertujuan untuk merumuskan model integrasi data dan informasi lintas kementerian/lembaga guna membangun baseline program ekosistem digital nasional yang terkoneksi tanpa adanya tumpang tindih (re-inventing the wheel).
Dalam pertemuan krusial tersebut, Amvesindo hadir diwakili oleh Rama Mamuaya (Wakil Ketua IV) yang bertindak sebagai salah satu narasumber utama. Rapat ini juga dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan multisektoral, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koperasi (Kemenkop), Kementerian UMKM, Kemdiktisaintek serta Impactto selaku perwakilan inkubator swasta.
Visi Pemerintah: Integrasi dan Regulasi Baru
Dalam pemaparannya, pihak Kedeputian Kementerian PPN/Bappenas menyampaikan bahwa pengembangan dashboard ini akan berfungsi sebagai display utama produk inovasi dan potensi ekonomi digital Indonesia. Terlebih, pemerintah saat ini tengah menyusun RUU Digital yang diproyeksikan memberikan insentif fiskal dan non-fiskal demi menjamin keberlangsungan para wirausaha digital. Kementerian PPN/Bappenas juga menangkap arahan menteri terkait potensi adopsi teknologi tokenisasi pada ekosistem ini ke depan.
Di sisi lain, Komdigi memaparkan rencana penggunaan platform data untuk ekosistem startup dan investor di Indonesia (Startup Indonesia) serta Garuda Spark Innovation Hub (GSIH). Kedepannya Komdigi juga merencanakan adanya fitur Glass Wall untuk meningkatkan transparansi ekosistem pendanaan investor, meskipun platform ini untuk sementara masih dikelola secara ad-hoc demi menjaga keluwesan operasional sebelum dialihkan menjadi Barang Milik Negara (BMN).
Sikap Amvesindo: Soroti Funneling Pendanaan Awal & Validasi Data
Sebagai narasumber perwakilan dari industri modal ventura, Rama Mamuaya memberikan beberapa catatan kritis. Salah satu fokus utama yang disampaikan adalah kekhawatiran mengenai penyusutan porsi pendanaan di tahap awal (pre-seed dan seed stage).
Amvesindo menekankan bahwa pendanaan early-stage ibarat corong utama yang jika terus mengecil, dikhawatirkan akan menghentikan lahirnya perusahaan baru. Padahal, startup baru inilah yang menjadi penggerak utama inovasi di Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran dashboard ini diharapkan mampu memberikan visibilitas yang lebih baik bagi para investor.
Selain itu, Amvesindo menggarisbawahi pentingnya validasi dan akurasi data. Perbedaan data publik yang dirilis pemerintah berpotensi menimbulkan risiko investasi tambahan. Mengingat industri investasi sangat sensitif terhadap kerahasiaan data komersial, Amvesindo mengingatkan agar sistem yang dibangun tetap menghormati batasan privasi dengan mengutamakan data publik yang telah terkurasi dengan baik, sejalan dengan prinsip UU Perlindungan Data Pribadi (PDP).
Amvesindo juga menyoroti pentingnya edukasi bagi investor lokal/konglomerat di daerah. Saat ini, mayoritas sektor teknologi masih didominasi oleh modal asing karena minimnya pemahaman pelaku usaha lokal terhadap aset digital (virtual items) dan lanskap bisnis teknologi.
Sinergi Ekosistem Lintas Sektor
Rapat ini juga mengompilasi program dari sektor lain, seperti KemenUMKM yang memamerkan efektivitas platform SIPENSI (telah mendata 756 lembaga inkubator), serta pandangan dari Impactto mengenai pentingnya implementasi Product-Market Fit (PMF) Financial Modeling dan skema Open Innovation guna menjembatani kolaborasi startup dengan korporasi besar.
Sebagai langkah awal, Kementerian PPN/Bappenas saat ini masih dalam tahap pengumpulan informasi komprehensif untuk menyamakan koridor di antara semua pemangku kepentingan. Amvesindo berkomitmen untuk terus mengawal proses ini, termasuk dalam diskusi teknis lanjutan mengenai klasterisasi dan entomologi istilah “startup” agar tercipta regulasi dan fasilitas ekosistem yang tepat sasaran.