Jakarta, 31 Desember 2025 — Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) memandang bahwa industri modal ventura nasional saat ini berada dalam fase maturasi dan penyehatan struktural, seiring dengan dinamika ekonomi global, penyesuaian industri teknologi, serta peningkatan standar tata kelola investasi.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total outstanding pembiayaan modal ventura per akhir 2024 tercatat sekitar Rp16,9 triliun, dengan komposisi portofolio yang semakin mencerminkan pergeseran ke sektor-sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan ekonomi riil dan produktivitas nasional.
Outlook Industri Modal Ventura 2025: Konsolidasi dan Penguatan Fundamental
Amvesindo melihat tahun 2025 sebagai periode konsolidasi industri, di mana aktivitas investasi tetap berjalan namun dengan pendekatan yang lebih selektif dan berorientasi pada kualitas.
Secara global, nilai investasi venture capital pada 2023–2024 tercatat mengalami penurunan lebih dari 35–40% dibandingkan puncak 2021, seiring kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas. Dampak ini turut dirasakan di Indonesia, terutama dalam bentuk:
- Penurunan deal berisiko tinggi di tahap awal,
- Koreksi valuasi startup,
- Peningkatan fokus pada kinerja fundamental.
Dalam konteks ini, perusahaan modal ventura semakin mengutamakan:
- Startup dengan traksi pendapatan dan unit economics yang jelas,
- Jalur menuju profitabilitas yang realistis,
- Tata kelola, transparansi, dan manajemen risiko.
Pendekatan tersebut merupakan bagian dari pendewasaan industri, dari fase pertumbuhan agresif menuju fase pembentukan fondasi jangka panjang yang lebih sehat.
Fokus Pembiayaan Saat Ini dan Dinamika Sektor
Mengacu pada data OJK, portofolio pembiayaan perusahaan modal ventura saat ini didominasi sektor perdagangan, dengan nilai sekitar Rp7,86 triliun atau 46,48% dari total portofolio, disusul sektor penyewaan serta informasi dan komunikasi.
Dominasi sektor perdagangan dipengaruhi oleh:
- Kuatnya konsumsi domestik,
- Model bisnis yang lebih cepat menghasilkan arus kas,
- Peran teknologi dalam meningkatkan efisiensi distribusi dan UMKM.
Namun demikian, Amvesindo mencatat adanya diversifikasi minat investasi yang semakin kuat ke sektor-sektor lain yang dinilai lebih berkelanjutan dan strategis.
Success Stories Ekosistem yang Berkelanjutan
Amvesindo menilai bahwa ekosistem startup Indonesia telah memiliki sejumlah success stories, khususnya startup yang mampu membangun model bisnis berkelanjutan, mencatatkan profitabilitas, atau memiliki arus kas yang sehat dan stabil.
Startup-startup ini umumnya tumbuh secara disiplin di sektor-sektor yang dekat dengan ekonomi riil seperti enterprise dan B2B solutions, logistik, healthtech, agritech, serta sektor pendukung produktivitas lainnya dan tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan berkelanjutan untuk menopang operasionalnya.
Kurangnya Eksposur Media terhadap Success Stories Berbasis Fundamental
Di sisi lain, Amvesindo mencatat bahwa banyak success stories tersebut belum terekspos secara luas di media, karena tidak selalu ditandai dengan valuasi besar, ekspansi agresif, atau strategi pertumbuhan cepat sebagaimana yang dominan diberitakan pada periode sebelumnya.
Padahal, keberadaan startup yang tumbuh stabil, profitable, dan memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi merupakan indikator penting dari kematangan ekosistem modal ventura nasional. Ke depan, Amvesindo mendorong narasi industri yang lebih seimbang, dengan menyoroti kualitas pertumbuhan dan dampak ekonomi jangka panjang.
Outlook 2026: Key Industries dan Growth Potentials
Memasuki tahun 2026, Amvesindo memproyeksikan industri modal ventura Indonesia akan berada pada fase yang lebih stabil dan matang, dengan fokus investasi yang semakin terarah pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi, antara lain:
- Enterprise & B2B solutions, termasuk SaaS dan solusi digital untuk efisiensi operasional perusahaan dan UMKM,
- Logistik dan supply chain, sebagai tulang punggung perdagangan dan distribusi nasional,
- Healthtech dan agritech, yang mendukung ketahanan kesehatan dan pangan,
- Climate-related solutions dan teknologi efisiensi energi, sejalan dengan agenda keberlanjutan,
- Manufacturing enablement dan deep tech terapan, yang mendorong produktivitas dan daya saing industri.
Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang karena didukung oleh kebutuhan pasar yang nyata, skala ekonomi domestik Indonesia, serta relevansi terhadap agenda pembangunan nasional.
Exit sebagai Faktor Kunci Keberlanjutan Ekosistem
Selain keberhasilan dari sisi operasional, Amvesindo juga mencatat adanya success stories melalui jalur exit, baik dalam bentuk penawaran umum perdana (IPO) maupun aksi merger dan akuisisi (M&A), yang memberikan likuiditas dan realisasi imbal hasil bagi investor.
Keberadaan exit tersebut, meskipun belum masif, memiliki peran penting dalam:
- Menjaga dan memulihkan kepercayaan investor,
- Membuktikan bahwa siklus investasi dapat berjalan secara utuh,
- Menjadi referensi dan benchmark bagi pelaku ekosistem lainnya.
Ke depan, Amvesindo memandang bahwa penguatan iklim exit yang lebih kondusif—baik melalui IPO, M&A strategis, maupun secondary transactions—merupakan salah satu elemen penting untuk menjaga keberlanjutan industri modal ventura di Indonesia.
Potensi Pertumbuhan
Amvesindo menekankan bahwa meskipun prospek industri modal ventura tetap positif, karakter pertumbuhan ke depan akan berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan tidak lagi didorong oleh ekspansi agresif atau valuasi semata, melainkan oleh penciptaan nilai yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat dan pelaku ekosistem, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
- Investasi di sektor startup dan teknologi memiliki profil risiko jangka panjang,
- Keberhasilan tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan cepat, tetapi dari kesehatan bisnis dan tata kelola,
- Pentingnya memahami fundamental usaha dan transparansi, bukan sekadar mengikuti tren.
Pendekatan yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap ekosistem investasi nasional.
“Memasuki 2026, kami optimistis industri modal ventura Indonesia akan berada pada posisi yang lebih stabil dan matang. Dengan pasar domestik yang kuat dan kebutuhan digitalisasi lintas sektor yang masih sangat besar, modal ventura akan tetap berperan sebagai katalis inovasi—dengan pendekatan yang lebih selektif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang” ungkap Eddi Danusaputro, Ketua Amvesindo.
Tantangan Industri dan Peran Amvesindo
Amvesindo mengakui bahwa tantangan industri masih ada, terutama terkait keterbatasan likuiditas global, minimnya aktivitas exit, serta peningkatan ekspektasi terhadap governance. Untuk itu, Amvesindo terus mendorong:
- Penguatan standar praktik investasi yang bertanggung jawab,
- Kolaborasi erat dengan regulator dan pemangku kepentingan,
- Peningkatan literasi dan kapasitas pelaku industri.
Penutup
Amvesindo meyakini bahwa fase maturasi ini merupakan fondasi penting bagi industri modal ventura Indonesia yang lebih resilien, kredibel, dan berdampak, serta mampu berkontribusi secara nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.
Tentang Amvesindo
Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) merupakan wadah resmi perusahaan modal ventura di Indonesia yang berkomitmen mendorong pertumbuhan ekosistem investasi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan regulator, pelaku industri, dan pemangku kepentingan ekosistem. Selain perusahaan modal ventura, Amvesindo juga menaungi dan melibatkan berbagai entitas penunjang ekosistem, yang berperan dalam memperkuat perkembangan startup dan industri modal ventura secara menyeluruh.
Narahubung:
Novrizal Pratama
Kepala Bidang Media & Hubungan Masyarakat
Amvesindo
Email : info@amvesindo.org