Bandung, 11–13 November 2025 – Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) berpartisipasi aktif dalam Workshop Indonesia Creative & Innovation Fund of Funds (ICIFF) yang diselenggarakan pada 11–13 November 2025. Pada kesempatan ini, Amvesindo diwakili oleh Markus L. Rahardja (Sekretaris Jenderal), Lugas Prancafitri (Bendahara), Andreas Surya (Wakil Ketua II), serta perwakilan anggota, Alvin Evander (MDI Ventures).
Workshop ini merupakan kelanjutan dari rangkaian diskusi sebelumnya dan menjadi bagian dari penyiapan Program Indonesia Creative and Innovation Fund of Funds (ICIFF), sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem pembiayaan inovasi serta mendorong peningkatan produktivitas pelaku usaha berbasis inovasi, kreativitas, dan digital. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bappenas bekerja sama dengan World Bank.
Program ICIFF dirancang untuk menjadi instrumen yang dapat menjembatani kebutuhan pembiayaan inovatif, khususnya bagi startup dan pelaku usaha berbasis teknologi dan ekonomi kreatif, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Selain Bappenas dan World Bank sebagai penyelenggara utama, workshop ini juga dihadiri oleh berbagai perwakilan pemangku kepentingan pemerintah, antara lain:
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
- Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf)
- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Dari luar negeri, hadir pula perwakilan lembaga internasional, yaitu Korea Institute of Startup & Entrepreneurship Development (KISED) dan Korea Venture Investment Corporation (KVIC) yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan dana dan pengembangan ekosistem startup di Korea Selatan.
Dalam sesi workshop, Amvesindo memaparkan kondisi ekosistem modal ventura dan startup di Indonesia, dengan fokus pada tantangan dan peluang dalam penguatan peran modal ventura bagi pembiayaan inovasi nasional. Amvesindo menekankan pentingnya penguatan tata kelola modal ventura dan pemulihan kepercayaan investor melalui penyelarasan kebijakan secara kolaboratif dengan pendekatan tiga klaster utama:
-
Publik
Mengorkestrasi literasi publik mengenai pembiayaan inovatif, termasuk modal ventura, agar masyarakat dan pelaku usaha memahami karakteristik risiko, potensi, serta mekanisme instrumen pembiayaan ini. -
Regulasi
Melakukan harmonisasi peraturan perundang-undangan untuk meminimalkan celah regulasi dan penegakan hukum, termasuk opsi penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) bila diperlukan, guna mendukung ekosistem pembiayaan inovatif yang lebih kuat dan terpercaya. -
Akademik
Menyusun White Paper yang mendefinisikan peran pembiayaan inovatif dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang inklusif dan selaras dengan kebijakan pemerintah. Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, dan akademisi.
Pada sesi penutup, World Bank menyampaikan pengalaman lintas negara dan memberikan rekomendasi bagi Indonesia yang tengah mempersiapkan implementasi skema Fund of Funds (FoF) sebagai instrumen impact investment.
World Bank menyoroti beberapa aspek kunci yang perlu diperhatikan agar FoF dapat berfungsi bukan hanya sebagai instrumen finansial, tetapi juga sebagai alat kebijakan pembangunan ekonomi inklusif, antara lain:
-
Institutional readiness, termasuk kesiapan kelembagaan dan kapasitas pengelola dana.
-
Transparansi tata kelola, untuk memastikan akuntabilitas dalam penyaluran dan pengelolaan dana.
-
Mekanisme monitoring berbasis hasil (results-based monitoring), sehingga dampak sosial dan ekonomi dari investasi dapat diukur secara jelas dan terstruktur.
Melalui keikutsertaan dalam Workshop ICIFF, Amvesindo mempertegas komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ekosistem pembiayaan inovatif yang sehat, kredibel, dan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif.