JAKARTA – Mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kemandirian ekonomi UMKM membutuhkan pendekatan yang lebih strategis dari sekadar bantuan sosial (charity). Menyadari hal tersebut, Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) melakukan audiensi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) guna mengeksplorasi peluang kolaborasi strategis dalam program inisiatif pemerintah, “Perintis Berdaya”.

Audiensi ini dilangsungkan pada Selasa, 13 Oktober 2026, bertempat di Kantor Kemenko PM, Jakarta. Delegasi Amvesindo yang dipimpin langsung oleh Ketua Amvesindo, Bapak Eddi Danusaputro, disambut oleh Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Bapak Leontinus, beserta jajaran.

Empat Pilar Program “Perintis Berdaya”
Dalam pertemuan tersebut, Bapak Leontinus memaparkan bahwa “Perintis Berdaya” merupakan solusi pemberdayaan ekonomi yang difokuskan pada UMKM, Ekonomi Kreatif, Koperasi, hingga Pekerja Migran Indonesia (PMI). Program yang telah melakukan percontohan (pilot project) di Bandung dan Kota Batu Malang, ini ditopang oleh empat pilar utama:

  1. Berdaya Bersama: Ekosistem pelatihan inklusif dari fundamental bisnis hingga adopsi teknologi omni-channel.

  2. Berdaya Berusaha: Mendorong inovasi dan perluasan pasar, dari hulu (bahan baku) hingga hilir (tata niaga dan legalitas).

  3. Berdaya Finansial: Mendorong pembiayaan inklusif melalui inovasi penilaian kredit (credit scoring) berbasis profil usaha.

  4. Berdaya Global: Penguatan tata kelola dan perlindungan pekerja migran melalui pelatihan vokasi dan fasilitasi lapangan kerja.

Perspektif Modal Ventura dan Dukungan Amvesindo
Amvesindo menyambut baik inisiatif tersebut, mengingat kemandirian UMKM selaras dengan target perluasan ekosistem digital dan inovasi. Dalam diskusi strategis ini, Amvesindo menyoroti beberapa poin sinergi:

  • Pendanaan dan Pendampingan Komersial: Perusahaan Modal Ventura (VC), khususnya Venture Debt Corporation (VDC) yang berfokus pada segmen mikro, memiliki kapasitas untuk mendanai sektor produktif. Intervensi VC tidak hanya terbatas pada pendanaan, tetapi juga mencakup pendampingan bisnis (mentoring), digitalisasi, dan strategi go-to-market.

  • Mengisi Celah Pendanaan (Research to Commercialization): Untuk startup/UMKM tahap awal yang belum siap didanai VC, Amvesindo menyarankan pemerintah dapat mengoptimalkan fungsi hibah produktif (grant) berbasis Technology Readiness Level (TRL) agar mereka lebih siap (investable) pada tahap selanjutnya.

  • Dukungan Solusi Teknologi (Indirect Support): Banyak startup B2B portofolio VC (seperti penyedia platform Point of Sales atau logistik) yang solusinya secara langsung dapat membantu efisiensi operasional UMKM binaan “Perintis Berdaya”.

Langkah Kolaborasi ke Depan
Kemenko PM menekankan prinsip kerja sama yang berfokus pada kolaborasi wajar bisnis (business as usual) tanpa memaksakan model yang memberatkan pelaku usaha. Keterlibatan swasta diharapkan mampu mengurai tumpang tindih program pemberdayaan dan memberikan perspektif komersial yang nyata.