(17/09/2025) Pertemuan antara Amvesindo dan AFTECH yang dilaksanakan di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, membahas ekosistem venture capital serta iklim investasi dengan menyoroti tantangan yang tengah dihadapi industri. Dari Amvesindo hadir Eddi Danusaputro (Ketua), Markus L. Rahardja (Sekretaris Jenderal), Aditia Henri Narendra (Wakil Sekretaris Jenderal), Lugas Prancafitri (Bendahara), Ronald Samuel Simorangkir (Wakil Ketua I), dan Rama Mamuaya (Wakil Ketua IV). Sementara itu, AFTECH diwakili oleh Pandu Sjahrir (Ketua Umum sekaligus CIO Danantara Indonesia), Firlie Ganinduto (Sekretaris Jenderal), serta Mercy Simorangkir (Direktur Eksekutif).

Beberapa isu utama yang menjadi perhatian meliputi kompleksitas dinamika bisnis VC, risiko cashflow dan moral hazard di tingkat founder, serta tantangan dalam kepatuhan dan pengawasan portofolio. Hal ini semakin relevan melihat kondisi iklim investasi startup di paruh pertama 2025 yang masih melambat. Berdasarkan data DailySocial.id, total pendanaan turun 43,5% YoY menjadi US$161,3 juta dari 34 kesepakatan, dibandingkan US$285,4 juta dari 36 kesepakatan pada H1 2024. Meski demikian, pendanaan tahap awal (seed hingga Series A) tetap mendominasi, menunjukkan adanya minat yang kuat pada peluang berpotensi besar. Dari sisi sektor, New Retail memimpin dengan US$44,4 juta, sementara Agritech mencatat tujuh kesepakatan senilai US$22,6 juta. Secara regional, Asia Tenggara membukukan US$2 miliar (Traxcn), turun 24% dari H2 2024 namun masih naik 7% secara YoY. Sementara itu, menurut DealStreetAsia, Singapura menduduki posisi teratas dalam nilai pendanaan ekuitas dengan pangsa 65,1%, diikuti Vietnam (14,9%), Malaysia (10,6%), Filipina (4,7%), dan Indonesia (4,2%). Namun dari sisi volume, Singapura memimpin dengan 56,3%, diikuti Indonesia dengan 14,8%, menunjukkan Indonesia masih cukup aktif meski dari sisi nilai relatif tertinggal.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, kedua asosiasi menekankan perlunya penguatan pengawasan, penerapan sistem whistleblowing, penegakan regulasi sesuai POJK dan UU BUMN, serta mekanisme self-regulatory assessment khususnya bagi anggota fintech. Untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas, juga disepakati penyusunan buku putih yang memuat portofolio setiap Perusahaan Modal Ventura (PMV) sebagai rujukan publik sekaligus rekam jejak industri. Sebagai langkah aksi, Amvesindo dan AFTECH berkomitmen menyusun mekanisme bersama untuk monitoring anggota, memperkuat penerapan self-assessment compliance dan whistleblowing system, serta memastikan kepatuhan portofolio fintech terhadap kode etik. AFTECH akan membantu mensosialisasikan maturation map kepada anggotanya, sementara Amvesindo akan memimpin penyusunan buku putih portofolio PMV. Selain itu, kedua asosiasi juga akan mengeksplorasi kerja sama dengan perbankan, difasilitasi oleh Pandu Sjahrir dalam kapasitasnya sebagai CIO Danantara Indonesia untuk mendorong pengembangan modal ventura yang lebih berkelanjutan.